Bagian pariwisata merupakan salah satu sumber pemasukan pokok negara kita. Indonesia tidak hanya dikenal sebagai sebuah negara yang kaya akan hasil tambang dan hasil hutanya, melainkan juga kaya akan keindahan alamnya. Bukan hal aneh saat kita melihat banyak wisatawan manca negara yang datang untuk berwisata di negeri kita tercinta ini. Pada tahun 2018 Indonesia dikunjungi oleh 1,2 juta wisatawan asing, angka tersebut belum termasuk wisatawan local yang juga memiliki jumlah yang besar. Pada 2018 Indonesia memiliki pendapatan devisa sebesar 16 milliar dollar AS. Tidak dapat dipungkri sektor pariwisata sangat menopang ekonomi Indonesia, akan tetapi akankah hal itu tetap sama di zaman milenial ini. Akankah pariwisata negara kita akn berkembang, atau akan anjlok.

Bagian pariwisata merupakan salah satu sumber pemasukan pokok negara kita. Indonesia tidak hanya dikenal sebagai sebuah negara yang kaya akan hasil tambang dan hasil hutanya, melainkan juga kaya akan keindahan alamnya. Bukan hal aneh saat kita melihat banyak wisatawan manca negara yang datang untuk berwisata di negeri kita tercinta ini. Pada tahun 2018 Indonesia dikunjungi oleh 1,2 juta wisatawan asing, angka tersebut belum termasuk wisatawan local yang juga memiliki jumlah yang besar. Pada 2018 Indonesia memiliki pendapatan devisa sebesar 16 milliar dollar AS. Tidak dapat dipungkri sektor pariwisata sangat menopang ekonomi Indonesia, akan tetapi akankah hal itu tetap sama di zaman milenial ini. Akankah pariwisata negara kita akn berkembang, atau akan anjlok.

Dimana ada sesuatu yang tumbuh pasti ada juga yang mati, hal itu sangatlah akurat dalam masa digital ini. Banyak sekali sektor seltor yng terpuruk dan hampir gelar tikar karena efek era digital ini, akan tetapi banyak juga yang malah berkembang cepat. Zaman millennial sangatlah berpengaruh kepata travel digital, mengingat zaman milenial adalah zaman yang serba digital. Tidak mengangetkan bila sektor pariwisata mengalami pelonjakan yang sangat signifikan. Dapat kita lihat bahwa pada dari tahun 2018 sampai 2019 terdapat pertumbuhan sebesar 4,8 % terhadapa angka turis manca negara yang masuk ke Indonesia. Menurut prediksi penulis zaman millennial akan menaikan angka itu secara jauh lebih signifikan. Kenapa hal itu bias terjadi? Hal itu disebabkan oleh zaman millennial yang juga merupakan era digital. Era digital mempunyai dua factor yang membantu peningkatan tersebut yang pertama adalah factor kemudahan dan yang kedua adalah faktor periklanan.

Factor pertama yaitu kemudahan membuat orang orang yang ingin berkunjung tidak ragu untuk mendatangi Indonesia. Mereka dapat dengan mudah membeli tiket pesawat serta hotel, mereka cukup menyusuri internet tanpa perlu susah payah menelepon. Selain itu mereka juga dapat mengecek berbagai destinasi yang indah dan mempesona dari internet. Hal ini membuat wisatawan tidak berpikir dua kali untuk berwisata. Hal tersebut benar benar terbukti, pada tahun 2018 74 % dari wisatawan asing yang dating ke Indonesia mengunakan internet dan berbagai aplikasi smartphone lainya. Sedangkan untuk wisatawan dalam negeri baru 50 % dimana angka tersebut didominasi oleh kaum millennial.
Factor kedua yaitu periklanan, dengan adanya era digital ini semua hal dapat disebarkan dengan sangat cepat, hamper semua orang memiliki sosial media, bahkan banyak orang yang tidak bias terlepas dari hal tersebut. Hal tersebut mempermudah usaha pemerintah dan pelaku usaha pariwisata untuk mengiklankan keindahan alam Indonesia serta produk produk mereka. Bayangkan saja hampir semua orang di dunia ini memeliki social media seperti Instagram dan Facebook, hal terebut sangatlha memudahkan untuk mempromosikan Indonesia sebagai destinasi wisata. Hal ini bukanlah hal yang susah dilakukan mengingat banyaknya post post yang menjadi sangat viral hinnga mengemparkan dunia social media.
Berkat 2 factor tersebut sector pariwisata mengalami kemajuan yang signifikan, akan tetapi mereka masi harus beradaptasi dengan mayoritas konsumen, yaitu kaum millennial. 50 % dari para wisatawan merupakan wisatawan millennial, angka tersebut tergolong cukup tinggi. Oleh sebab itu harus ada adaptasi untuk memenuhi keinginan dan kesukaan mereka. Contohnya salah satu tipe travel yang disukai milenial ada budget travel. Budget travel merupakan bentuk wisata dengan biaya murah yang mencakup akomodasi dan transportasi. Istilah tersebut cukup populer di kalangan milenial. Bagi milenial, pergi wisata ke berbagai tempat dengan spot menarik atau instagenic telah menjadi salah satu bagian dari gaya hidup. Biasanya, wisatawan milenial menggemari wisata petualangan, eksplorasi, dan perjalanan darat. Diharapkan sector pariwisata dapat beradaptasi dan memnuhi tuntutan tuntutan dari kaum millennial.

Jadi tidak dapat dipungkiri bahwa zaman millennial membawa keuntungan yang sangat besar kepada sector pariwisata. Akan tetapi malah banyak orang yang berwisata dan mecoba merusak objek wisata tersebut, hal ini sangatlah menyayat hati. Mereka melakukanya hanya demi mencari sensasi sesaat tanpa memikirkan dampaknya pada lingkungan. Penulis berharap bahwa kedepanya para wisatawan bias lebih dewasa dan sektor pariwisata dapat lebih berkembang.